August 2009



Song by : Jonathan Prawira & Jeffry S. Tjandra

Dalam s’gala perkara, Tuhan punya rencana
Yang lebih besar dari , semua yang terpikirkan
Apapun yang Kau perbuat, tak ada maksud jahat
S’bab itu kulakukan, semua denganMu Tuhan

Reff:
Ku tak akan menyerah pada apapun juga
Sebelum ku coba, semua yang kubisa
Tetapi ku berserah, kepada kehendakMu
Hatiku percaya, Tuhan punya rencana

Dum spiro spero means “While I breathe, I hope” in Latin and is generally attributed to Cicero.

Dum Spiro Spero in Wikipedia

Am now blogging from my blackberry. Thanks to wordpress’ new application. WordPress for BB.

Yang pengen punya, download aja di
wordpress for blackberry installer (OTA)

Gud luck :) happy blogging :)

“Bapak, Ibu yang terhormat. Sesuai dengan peraturan keselamatan penerbangan sipil, maka sesaat lagi kami akan memperagakan prosedur keselamatan dalam penerbangan ini.. “

More less, kata kata itu akan mengawali setiap penerbangan sipil.. Termasuk penerbangan saya ke Banda Aceh hari ini, Minggu 2 Agustus 2009.

Tapi saya bukan mau cerita mengenai mbak-mbak pramugari yang memperagakan “how to buckle, fasten and release your safety belt” atau mengapa saya ke Banda Aceh. Tetapi mau cerita mengenai seorang Mister Pakle (karena laki2. Menurut adik saya, kalau cewek itu BuLe. Kalau cowok PakLe) yang duduk di seat 5D..

(Saya ada di deretan sebelah di 5C).

Mister ini, sebut saja Mister X (bukan nama sebenarnya), punya ukuran badan yang endomorphic.. Google-it kalau ga ngerti artinya.. He is huge.. Kalau anda yang kenal saya, bilang bahwa saya gemuk, ya dia dua kali saya lah badannya..

Alasan saya pilih seat di front row jelas. Yaitu :

1. Dekat executive class.. Bisa sedikit merasakan aura executive..
2. Kalau duduk di row 5, ruang kaki-nya lega.. Bisa selonjoran..
3. Kalau pembagian makanan, selalu duluan.. Yumm (btw pagi ini sarapan omelette.. Enyak !)

Namun untuk Mister X ini, saya rasa karena beliau endomorphic, dan kakinya panjang, beliau memilih (atau dipilihkan tempat di row 5). Entah kenapa, ada beragam alasan dia tidak duduk di kelas executive.

Sejak awal naik saya sudah memperhatikan di mister ini, yang berbody lebar, duduknya ngepas di kursi ekonomi. Kasian.. Huh..

O ya, flash back, tadi ketika baru boarding, ada satu mbak yang komplain gara2 tempat duduknya di 18D ternyata sudah ditempati orang lain dengan nomor kursi yang sama. Lho kok iso ?! Yo mbuh..
Alhasil mbak-mbak ini (sebut saja Mawar, bukan nama sebenarnya), ditempatkan di row 4. Alias dipindah ke kelas executive !

Heboh to ? Enak to ? Asik to ? Daripada naik ojek mendingan takgendong pindah ke kelas executive !

Singkat cerita.. Tibalah saat pembagian makanan dengan berbagai pilihan minuman dingin dan hangat. “What do you want Sir, we have omelette and fried rice..”, tanya mbak pramugari yang tidak mau disebutkan namanya (beneran.. Ga ada name tag-nya. Sebut saja Melati, bukan nama sebenarnya).

“I’ll have the fried rice”, sahut si mister, sambil mengeluarkan meja dari arm rest. Walahh.. Gak cukuupp.. Keganjel perutnya.. semakin kasian.. Tapi si mister yang nyaman dengan keadaannya, dengan tetap tersenyum menyampaikan bahwa tidak masalah, ia akan pegang saja tray’nya (dalam bahasa Inggris yang saya terjemahkan secara bebas).

Ketika mbak Melati berpaling pada saya, saya memberikan usulan (saya sajikan dalam bentuk dialog ) :

Saya : Mbak, apa Mister ini ga mau disuruh pindah ke executive aja ? Kasian tu dia.. Kan di executive ada beberapa seat kosong..
Melati : Wah.. Tidak boleh Pak.
Saya : Lha, tadi ada yang double seat, juga akhirnya dipindahkan ke executive (si Mbak Mawar, red.)?
Melati : Iya Pak. Penumpang yang tadi anggota frequent flyer, jadi dapat prioritas untuk upgrade ke executive. Ini karena penumpang economy over.
Saya : Oooo… (Manggut2 sambil berpikir dalam hati..)

Apa yang ada dalam pikiran batin saya ?
1. Kok bisa penumpang economy class’nya over.
2. ASEMM !! Aku yo frequent flyer, Cak ! Baru upgrade ke Silver lagi.. (sirik mode : ON).
3. Makan apa ya.. Omelette atau nasi goreng..

Lalu, kalau Mister X ini merasa nyaman-nyaman saja dengan tempat duduknya yang sesak, kenapa saya harus nulis note panjang ini ??.

1. Ada rasa kemanusiaan yang hilang oleh peraturan. Rasa toleransi telah dinihilkan dengan peraturan.. Diskriminasi ? Ga tau ya..
2. Faktor keselamatan.. Mister ini tidak dapat mengenakan sabuk pengamannya. Kasian.. Ga cukup.. Nah, berarti ini sudah tidak sesuai dengan “Peraturan keselamatan penerbangan sipil” yang diperagakan di awal sebelum take-off..
Gimana kalau si Mister ini nyungsrep waktu landing nanti? walaupun saya yakin ukuran bokongnya yang “ngepres” ama kursi akan membuat dia tetep nancep dengan aman di kursinya. But still, it is not in accordance with civil flight safety regulation !
3. Penggunaan kata-kata “sesuai dengan peraturan..”. Apakah peragaan prosedur keselamatan ini hanya dilakukan karena terpaksa? Karena sesuai dengan peraturan? Karena takut melanggar? Takut ada orang KNKT ikut terbang ?

Lalu ?
Siapa yang bisa bertanggung jawab ?
Apakah maskapai ?
Apakah Mbak Mawar, yang kursinya ditempati orang lain?
Apakah Mbak Melati, yang melaksanakan tugas?
Apakah Mister X, yang ectomorphic?
Ataukah saya yang kurang kerjaan nulis note ini?

Saya kurang tahu.. Mari kita tanya pada nurani.. Mata hati..

Peace..
Jeffrey
(Ditulis sejak usai makan Omelette, dan ditutup ketika GA142 tujuan Banda Aceh ini berguncang diatas wilayah Bukit Barisan) – Diupload di Banda Aceh.