30 menit yang lalu…
Entah kenapa sore ini, yang niatannya naik taxi, tiba2 berubah jadi ingin naik ojek. Seperti labil aja pas langsung belok ke arah tukang ojek yang memanggil, “Oom.. Ayo ojek Oom..” — atau karena mungkin gw suka dipanggil Oom?
Dengan logat jawa yang kental, si tukang ojek menanyakan tujuan. Iseng2 aku liat plat nomor-nya, diawali dengan huruf “K”. Oke.. Orang Jawa Tengah.. Langsung gw sok akrab.. “K-ne pundi Pak (K-nya mana Pak?)” Dia pun jawab “Rembang Oom.. Lasem..”. Berbekal sok tahu dan pengalaman tinggal di Blora, gw menyampaikan sangkaan gw — bahwa dia dari Blora.
One thing lead to another, ngobrolin kerjaan lah. Pak Suwarto — belakangan gw tahu namanya — ternyata menjalani dua pekerjaan dalam satu hari. Siang hari dia menjadi supir pribadi seorang auditor yang berkantor di Kuningan. Sedangkan malam hari-nya dia menjalani profesi sebagai tukang ojek. “Golek duit sambil mlaku2 Oom (cari uang sambil jalan2 Oom),” jelas Pak Sunarto sambil ketawa.
Keluarganya tinggal di Rembang dan dia pulang 3 bulan sekali. Pak Sunarto mengatakan, bahwa untuk menghidupi keluarganya — satu istri dan tiga anak — tidak bisa hanya mengandalkan satu pekerjaan sebagai sopir / ataupun hanya sebagai tukang ojek.
Bagi Pak Suwarto, menjalani kehidupan seperti ini merupakan anugerah luar biasa baginya (catet ya.. ANUGERAH – that’s his exact word). Saya jadi tergelitik dan menanyakan.. Kenapa anugerah? Dia menjawab bahwa dia masih diberikan kesehatan, keluarga yang baik, anak yang pandai, dan kesempatan untuk menengok keluarga secara rutin. Apakah itu bukan namanya anugerah?
Di sepanjang sisa perjalanan –di antara perbincangan lain mengenai jodoh– saya tidak bisa berhenti berpikir bagaimana dia bisa begitu positif? Sedangkan orang-orang kantoran di Sudirman (termasuk saya) yang pendapatannya saya yakin jauh di atas Pak Suwarto, masih berpikiran negatif mengenai hidupnya. Gaji kurang, anak sekolah gimana, istri minta ini, suami mau beli ini…
Apakah ini yang disebut senantiasa bersyukur? Apakah ini yang disebut hidup berkecukupan? Apakah tolok ukurnya? Pak Suwarto yang harus bekerja jauh dari keluarga – jam 7 pagi – 6 malam sebagai sopir kemudian ngojek sampe tengah malam?
Ataukah orang2 seperti saya dan Anda?
Saya menantikan perbincangan selanjutnya dengan Pak Sunarto.. Mungkin sambil ngopi dan makan dengan sambel trasi udang yang dia janji mau bawakan dari Lasem.
“…. burung pipit serta layang-layang.. DIKAU beri sarang…”
10 Oktober 2011
Regards, Jeffrey Haribowo | @jeffreyhs
Advertisement
0 Responses to “Ketemu Pak Suwarto…”